
Wamensos Buka Suara soal Polemik Sepatu Rp.700 Ribu untuk Sekolah Rakyat Itu Hanya Pagu Anggaran, Bukan Harga Beli
Buletin.news – Polemik anggaran pengadaan sepatu untuk program Sekolah Rakyat senilai Rp 27 miliar akhirnya mendapat penjelasan langsung dari Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.
Sorotan publik sebelumnya muncul setelah beredar informasi adanya alokasi sepatu dengan nilai hingga Rp 700 ribu per pasang. Angka tersebut dinilai terlalu tinggi dan memicu pertanyaan masyarakat terkait penggunaan anggaran negara.
Menanggapi hal itu, Agus menegaskan nominal Rp 700 ribu bukanlah harga pembelian sepatu, melainkan hanya batas maksimal anggaran atau pagu yang disiapkan dalam perencanaan pengadaan.
“Itu masih pagu anggaran, bukan harga final pembelian. Nanti dalam proses lelang akan dicari harga yang paling efisien dan sesuai kebutuhan,” ujar Agus dalam wawancara di CNN Indonesia TV, Kamis (7/5/2026).
Agus menjelaskan sepatu dengan pagu Rp700 ribu tersebut merupakan sepatu Pakaian Dinas Lapangan (PDL), bukan sepatu harian yang digunakan siswa setiap hari di lingkungan sekolah.
Menurutnya, sepatu PDL memiliki spesifikasi teknis berbeda karena dirancang dengan standar kekuatan dan ketahanan tertentu.
“Sepatu apakah itu? Yaitu sepatu PDL. Yang tentunya spesifikasinya berbeda dengan sepatu harian karena ada banyak komponen tambahan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sepatu tersebut dirancang untuk menunjang aktivitas tertentu sehingga membutuhkan material lebih kuat, desain lebih rapi, serta standar kenyamanan yang lebih tinggi dibanding sepatu biasa.
Kementerian Sosial, lanjut Agus, tetap mengedepankan prinsip efisiensi anggaran dalam proses pengadaan barang dan jasa.
Nilai pagu yang tercantum saat ini hanyalah batas tertinggi yang disiapkan pemerintah. Harga akhir nantinya akan disesuaikan dengan hasil lelang dan kondisi pasar saat proses pengadaan berlangsung.
“Pada akhirnya nanti akan dicari harga yang paling masuk akal tanpa mengurangi kualitas barang,” katanya.
Agus juga menepis anggapan bahwa seluruh sepatu siswa Sekolah Rakyat bernilai ratusan ribu rupiah.
Agus menegaskan sepatu harian siswa memiliki harga jauh lebih rendah, yakni sekitar Rp200 ribuan per pasang dalam proses pengadaan.
“Jenis sepatu yang ditampilkan publik itu sebenarnya sepatu harian siswa. Harganya sekitar Rp200 ribu dalam proses pengadaan Kemensos,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus memaparkan sejumlah komponen yang membuat sepatu PDL memiliki estimasi anggaran lebih tinggi.
Selain mempertimbangkan daya tahan material, sepatu tersebut juga dibuat dengan standar keseragaman model, kenyamanan pemakaian, serta proses fitting agar sesuai dengan ukuran pengguna.
“Karena memperhatikan kenyamanan, kekuatan bahan, kerapian model, keseragaman, termasuk dilakukan fitting,” jelasnya.
Pemerintah tidak mensyaratkan penggunaan bahan kulit sapi asli. Namun, kualitas material tetap menjadi prioritas utama agar sepatu tahan lama dan layak digunakan Tegas Agus
Selain itu, sepatu juga akan dibuat secara khusus dengan pencantuman logo Sekolah Rakyat sebagai identitas resmi program.
“Tidak harus kulit asli. Yang penting bahannya kuat dan memenuhi standar. Karena ini juga bersifat custom dengan pencantuman logo Sekolah Rakyat,” kata Agus.
Polemik ini kembali menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap transparansi penggunaan anggaran pemerintah, khususnya pada program-program sosial dan pendidikan yang menyangkut dana publik dalam jumlah besar.
Program Sekolah Rakyat sendiri menjadi salah satu agenda sosial pemerintah yang dirancang untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, termasuk penyediaan fasilitas penunjang seperti seragam, sepatu, dan perlengkapan belajar lainnya.




