Eksekutif

Indonesia Filipina Bangun Poros Nikel Dunia, Perkuat Rantai Pasok Mineral Kritis dan Industri Energi Bersih ASEAN

Buletin,news – Airlangga Hartarto menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat rantai pasok mineral kritis dunia melalui kerja sama strategis dengan Filipina di sektor industri nikel. Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di Cebu, Filipina.

Penandatanganan yang berlangsung dalam forum Indonesia–Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Kamis (7/5/2026), disaksikan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Maria Cristina A. Roque.

Forum bisnis tingkat tinggi tersebut menjadi bagian dari rangkaian The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community Council yang berlangsung pada 6–7 Mei 2026, sekaligus bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48.

Kerja sama tersebut dinilai strategis karena Indonesia dan Filipina merupakan dua kekuatan utama dalam industri nikel global. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, kedua negara secara bersama menguasai sekitar 73,6 persen produksi nikel dunia pada 2025.

Indonesia menjadi produsen terbesar dengan kontribusi sekitar 66,7 persen atau 2,6 juta ton, sedangkan Filipina menyumbang 6,9 persen atau 270 ribu ton. Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki sekitar 62 juta ton atau 44,5 persen cadangan nikel dunia, sementara Filipina menguasai 4,8 juta ton atau sekitar 3,4 persen.

Selain dominasi di sektor tambang, hubungan perdagangan kedua negara juga terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai USD10,22 miliar atau sekitar 8,4 persen dari total impor Filipina. Capaian itu menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang terbesar ketiga Filipina setelah Tiongkok dan Jepang.

“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia–Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Menko Airlangga.

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia dan Filipina sepakat membangun integrasi rantai nilai industri nikel regional. Nota kesepahaman APNI dan PNIA mencakup sejumlah kerja sama strategis jangka panjang, mulai dari pertukaran informasi untuk menjaga stabilitas perdagangan nikel regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pertambangan dan pengolahan mineral.

Pemerintah Indonesia menilai sinergi ini akan memperkuat ketahanan rantai pasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan baja tahan karat di kawasan ASEAN.

Airlangga menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang berkembang pesat dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai USD9,73 miliar sepanjang 2025. Pemerintah juga menargetkan investasi hingga USD47,36 miliar serta penyerapan sekitar 180.600 tenaga kerja pada 2030.

Menurutnya, smelter-smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel yang stabil dengan rasio silikon dan magnesium (Si:Mg) tertentu yang dapat dipenuhi melalui proses blending bijih nikel dari Filipina.

“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan bahan baku untuk industri baterai dan baja tahan karat nasional,” kata Airlangga.

Ia menambahkan, kerja sama tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan ASEAN Economic Community dalam memperkuat rantai pasok mineral kritis dan meningkatkan ketahanan ekonomi kawasan.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga menekankan pentingnya nikel sebagai mineral kritis bagi masa depan energi dunia. Menurutnya, hilirisasi nikel tidak hanya berkaitan dengan industri logam, tetapi juga memiliki peran sentral dalam mendukung transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan.

Produk turunan nikel dapat dimanfaatkan untuk pengembangan baterai kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi (energy storage) untuk panel surya dan pembangkit energi terbarukan lainnya.

“Penguatan industri nikel akan menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan ASEAN, terutama dalam mendukung pengembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan,” ujar Airlangga.

Untuk mempercepat hilirisasi dan memperkuat daya saing industri nikel nasional, Pemerintah Indonesia juga terus mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis global.

KEK diharapkan menjadi pusat investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, hingga pusat inovasi teknologi hilirisasi berstandar internasional. Langkah ini diyakini mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri kendaraan listrik dan energi hijau dunia.

Dengan terbentuknya Indonesia Philippines Nickel Corridor, kedua negara diproyeksikan menjadi poros utama industri nikel global sekaligus tulang punggung rantai pasok energi bersih dunia di masa depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button