
Buletin.news – Niat hati mengabdi untuk membangun ekonomi desa, lima warga sipil justru harus meregang nyawa. Sebanyak lima orang calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dilaporkan meninggal dunia akibat gangguan kesehatan saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Tragedi yang merenggut nyawa hingga Jumat (26/6/2026) ini sontak memicu gelombang kemarahan dan kritik keras dari publik.
Menghadapi sorotan tajam, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia, akhirnya angkat bicara. Ia menepis anggapan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk mencetak warga sipil menjadi prajurit militer. Menurutnya, program ini murni dirancang untuk membentuk mental, tanggung jawab, daya juang, dan kedisiplinan para calon manajer. Kemenhan berdalih bahwa penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi membutuhkan pengelola yang berintegritas tinggi, mengingat kekuatan ekonomi rakyat merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional.
Merespons jatuhnya korban jiwa, Menteri Pertahanan langsung menginstruksikan jajarannya untuk melakukan evaluasi darurat dan menyeluruh, khususnya pada aspek keselamatan serta kesehatan peserta. Pihak penyelenggara kini diwajibkan untuk melakukan pemetaan riwayat medis secara ketat, menyesuaikan kembali tingkat intensitas beban fisik di lapangan, serta membangun sistem deteksi dini dan mekanisme rujukan yang cepat bagi peserta yang mulai menunjukkan gejala sakit.
Meski Kemenhan telah memberikan klarifikasi dan berjanji melakukan evaluasi, publik telanjur menilai bahwa pelatihan kemiliteran bagi pengelola koperasi adalah sebuah kebijakan yang sangat salah kaprah. Banyak pihak melontarkan kritik tajam bahwa untuk memajukan sebuah unit usaha desa, para calon manajer seharusnya ditempa dengan pelatihan manajemen bisnis, strategi ritel, dan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Memaksakan warga sipil untuk mengikuti pelatihan fisik ala militer dinilai sama sekali tidak relevan dengan tugas manajerial, dan ironisnya, justru berujung fatal pada melayangnya nyawa yang tak ternilai harganya.




