
Papeda hingga Sate Ulat Sagu “Ngegas” di Bandung: Kedai Rasta Suguhkan Rasa Asli Timur yang Autentik dan Ramah Lidah Lokal
Buletin.news – Bandung kembali diramaikan dengan kehadiran kuliner unik dari Indonesia Timur. Di tengah menjamurnya kafe dan restoran modern, Kedai Rasta hadir membawa cita rasa autentik berbasis sagu yang jarang ditemui di Kota Kembang.
Kedai dengan nama lengkap Rasa Asli Timur Indonesia ini berlokasi di Jalan Cilaki No.59, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, serta telah membuka cabang baru di Jalan Siliwangi No.31B. Berdiri sejak 2018, Rasta konsisten menyajikan menu khas Papua dan wilayah Timur lainnya dengan pendekatan rasa yang tetap otentik namun bersahabat bagi lidah lokal
Papeda dan Ikan Kuah Kuning Jadi Primadona
Menu andalan di Kedai Rasta adalah papeda, makanan tradisional berbahan dasar sagu dengan tekstur kenyal dan lengket. Proses pembuatannya tidak sederhana, papeda harus diaduk cepat menggunakan dua garpu agar menghasilkan konsistensi yang pas, tidak terlalu cair maupun terlalu padat.
Papeda di sini disajikan bersama ikan kakap kuah kuning yang kaya rempah, lengkap dengan tumis kangkung dan nasi. Meski tanpa banyak bumbu tambahan, papeda tetap nikmat karena berfungsi sebagai penyeimbang rasa, mirip seperti nasi dalam hidangan Nusantara.
Satu paket papeda dibanderol sekitar Rp50 ribu, sementara menu lainnya cukup terjangkau, mulai dari Rp20 ribuan.
Gunakan Sagu Asli Papua Demi Cita Rasa Otentik
Pemilik Kedai Rasta, Elmut Jonathan Warinussy, menegaskan bahwa kualitas bahan baku menjadi kunci utama. Sagu yang digunakan didatangkan langsung dari Papua untuk menjaga keaslian rasa.
“Papeda yang paling autentik itu memang dari sagu asli Papua, jadi kami pastikan bahan utamanya langsung dari sana,” ujarnya.
Selain papeda, pengunjung juga bisa menikmati beragam hidangan khas Timur seperti ikan bakar, suwir cakalang, hingga menu ekstrem seperti sate ulat sagu yang menjadi daya tarik tersendiri.
Autentik tapi Tetap Adaptif dengan Lidah Sunda
Meski mengusung konsep autentik, Rasta tetap melakukan penyesuaian rasa agar lebih mudah diterima masyarakat Bandung. Bumbu diolah sedemikian rupa agar tetap kaya rempah, namun tidak terlalu “asing” bagi lidah lokal.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam menarik minat pelanggan yang ingin mencoba sesuatu yang baru tanpa merasa terlalu jauh dari cita rasa yang familiar.




