
Papeda, Kuliner Sagu Khas Ternate yang Menyehatkan: Lezat, Alami, dan Diyakini Cegah Osteoporosis
Buletin.news – Berkunjung ke Ternate belum lengkap tanpa mencicipi papeda, kuliner tradisional berbahan dasar sagu yang telah menjadi makanan pokok masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu. Di berbagai rumah makan tradisional, nama papeda atau kerap disebut popeda masih terpampang sebagai simbol kebanggaan kuliner lokal.
Papeda merupakan bubur sagu berwarna putih dengan tekstur kental dan lengket. Sekilas tampilannya menyerupai lem, namun jangan salah hidangan ini memiliki cita rasa khas yang lembut dan netral, sehingga sangat cocok dipadukan dengan berbagai lauk berkuah.
Umumnya, papeda disajikan bersama ikan tongkol atau mubara yang dimasak dengan kuah kuning berbumbu kunyit dan rempah-rempah. Perpaduan tekstur kenyal papeda dengan kuah ikan yang gurih menciptakan sensasi makan yang unik dan menggugah selera.
Warisan Kuliner Sejak Era Kolonial
Papeda telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ternate sejak masa lampau, bahkan sejak era pendudukan Portugis. Makanan ini tidak hanya sekadar hidangan sehari-hari, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam, khususnya sagu.
Namun, seiring perkembangan zaman, popularitas papeda mulai tergerus oleh makanan pokok lain dari luar daerah. Kini, tidak semua warung makan di Ternate menyediakannya.
“Dulu banyak yang jual, sekarang sudah mulai jarang dan lebih sering ditemukan di rumah atau lokasi wisata,” ujar Farid Hasan.
Murah, Alami, dan Kaya Manfaat
Salah satu daya tarik papeda adalah harganya yang terjangkau. Seporsi papeda lengkap dengan lauk dapat dinikmati mulai dari Rp12 ribu. Selain itu, proses pembuatannya yang alami tanpa bahan kimia membuat makanan ini semakin diminati.
Tak hanya lezat, papeda juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan. Kandungan sagu dipercaya baik untuk pencernaan, sementara lauk pendamping seperti ikan memberikan asupan protein dan kalsium.
Menurut Farid, konsumsi papeda secara rutin diyakini berkontribusi pada kesehatan tulang masyarakat lokal.
“Papeda itu bikin pencernaan lancar dan tulang kuat. Makanya orang tua di sini jarang kena osteoporosis,” katanya.
Proses Pembuatan Sederhana
Papeda dibuat dari endapan air sagu yang dimasak dengan cara disiram air mendidih sambil diaduk hingga mengental. Sebelumnya, sagu dicampur air dingin, garam, dan perasan jeruk, lalu disaring untuk mendapatkan tekstur halus.
Setelah matang, papeda paling nikmat disajikan dalam kondisi hangat bersama lauk berkuah agar rasa dan teksturnya semakin terasa.
Perlu Dilestarikan
Di tengah gempuran makanan modern, papeda tetap menjadi simbol identitas kuliner masyarakat Maluku Utara. Keberadaannya tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai alternatif makanan sehat berbasis bahan lokal.
Dengan cita rasa khas, harga terjangkau, dan manfaat kesehatan yang melimpah, papeda layak untuk terus dilestarikan sekaligus diperkenalkan lebih luas sebagai salah satu kuliner unggulan Indonesia.




