Kolom

Dari Cemara Udang ke Tahanan Kejagung

Oleh: Made Supriatma

Buletin.news – Bayangkan saja situasinya. Anda seorang entimologist atau ahli serangga. Ini sebuah profesi yang sangat mulia. Sebagai entimologist, Anda bergaul dengan belalang, kupu-kupu, kepik, wereng, dan sejenisnya. Sesekali, kalau kebetulan, Anda bergaul dengan kumbang tai. Itu biasa dan, sekali lagi, mulia.

Suatu kali, ada pengusaha kaya mantan jendral, yang bapak dan kakeknya sangat terkenal, mengundang Anda ke rumahnya. Untuk satu soal yang sederhana: tanaman Cemara Udangnya terlihat mau mati. Anda yag adalah profesor ahli serangga di sebuah institut pertanian terbaik di negeri ini harus menyembuhkannya. Walau pun tidak ahli, Anda toh tahu dasar-dasar pertanian. Dan wallahuallam Cemara Udang itu pulih dan tumbuh lagi.

Pemilik rumah mulai bercakap-cakap dengan Anda di kompleks rumahnya yang bak istana itu. Dia terkesan dengan Anda dan Anda pun terkesan dengan dia. Dia bersemangat membicarakan visinya tentang Indonesia ke depan. Anda memberi masukan.

Anda kemudian masuk ke dalam lingkarannya. Ketika dia berkampanye untuk menjadi presiden, Anda diajak dalam tim-nya. Anda bekerja sepenuh hati. Anda memperlihatkan loyalitas penuh Anda. Anda setuju dengan ide-idenya. Anda belajar memahami politik dengan sebaik-baiknya. Dunia yang berbeda jauh dari serangga yang menjadi keahlian Anda. Kesamaannya mungkin adalah sama-sama mengandalkan kekuatan. Siapa yang kuat dia yang menang dan berhak menentukan apa saja termasuk aturan main.

Begitulah. Ternyata dia menang! Tidak usah dipersoalkan bahwa kemenangannya itu diraih dengan cara apa. Dalam politik, seperti juga dalam serangga, pemenang selalu menjadi yang paling kuat.

Dan, Anda menjadi bagian dari kemenangan itu. Dan dia menjadi presiden. Dia tentu tidak lupa dengan Anda. Dia bahkan mengangkat Anda ke posisi yang luar biasa strategis: Kepala Badan Gizi Nasional, sebuah badan yang baru dia bentuk. Badan ini mengelola dana dalam jumlah fantastis. Ia menjadi badan yang mengelola dana APBN terbesar. Mengalahkan dana pertahanan. Mengalahkan dana pendidikan — sekali pun dananya diambil dengan menyunat dana pendidikan.

Tugas Anda hanya satu: memberi makan siang untuk sekitar 82 juta orang! Badan Gizi Nasional menjadi sebuah lembaga raksasa. Badan ini mempekerjakan puluhan ribu orang. Namun yang terpenting, Badan ini mendistribusikan triliunan untuk kontraktor-kontraktor swasta yang bernama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Badan yang Anda pimpin ini menseleksi pemilik-pemilik SPPG ini. Tentu di atas kertas ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi.

Dan, Anda harus mengontrol organisasi raksasa dengan dana super jumbo ini. Hidup Anda berubah dari seorang profesor yang hidup tenang dengan penelitian tentang kumbang dan lebah menjadi seorang manajer untuk organisasi yang kompleks. Sialnya, Anda tidak punya pengalaman atau pengetahuan untuk itu. Anda bahkan tidak pernah menjadi dekan atau rektor universitas.

Sekarang Anda harus mengontrol organisasi sebesar ini. Dan, Anda membuat sistem – yang menurut pandangan para pengkritik Anda adalah sistem dengan desain yang salah. Dan tentu tidak semua bisa Anda kontrol. Di dalam kantor sendiri ada politik. Para maling, rampok, dan orang-orang jahat juga ada didalamnya. Tentu mereka tampak glossy dan alim di luaran.

Dan, tentu banyak kesalahan ketika Anda mengelola BGN ini. Banyak yang tidak bisa Anda kontrol. Mungkin tidak akan bisa dikontrol oleh siapapun yang ada didalamnya. Anda harus menjilat ke presiden — yang ambisinya besar namun terlalu malas untuk belajar hal-hal yang detail, rumit, dan njlimet. Dia suka bicara besar seperti kapitalisme negara, Prabowonomics, ekoomi kerakyatan. Tapi tidak paham sama sekali bagaimana rakyatnya hidup.

Tibalah saat Anda ketika semua tampak gagal di mata boss Anda itu. Anda yang semula adalah alat politik, dengan memakai gizi anak-anak dan ibu hamil menjadi kekuatan elektoral, tiba-tiba menjadi titik lemahnya (liabilities). MBG dihujat dimana-mana. Mobil-mobil box SPPG harus menghapus logo BGN karena menjadi sasaran kebencian di jalanan.

Anak-anak keracunan makanan yang mereka santap. Makanan untuk liburan anak-anak menjadi bahan tertawaan. Semua orang di dunia ini tahu bahwa BGN dan MBG adalah organisasi yang korup.

Boss Anda, karena dia memagari dirinya dengan orang-orang super loyal yang menyaring semua informasi, tidak tahu secara mendatail semua ini. Hingga saat dia terpojok karena krisis energi yang berakibat pada krisis fiskal.

Akhirnya, boss Anda mencopot Anda. Tidak itu saja, kurang dari sehari setelah Anda diicopot, bekas kantor Anda dikepung militer. Anda ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan. Kejatuhan Anda seperti kejatuhan meteorit, dari posisi sangat terhormat, sangat berkuasa, hingga ke pesakitan.

Saya dan mungkin juga orang lain bertanya-tanya: Mengapa baru sekarang? Orang sudah mengeluh dan menertawakan BGN dan MBG sejak lama. Mengapa Anda dan dua deputi Anda? Mengapa boss Anda mengangkat deputi Anda, yang seperti Anda — bahkan lebih parah kurang pengalamannya — menjadi pengganti Anda?

Mau tidak mau saya berpikir bahwa situasi sekarang inilah yang membuat boss Anda mengorbankan Anda. Negara ini tidak lagi punya uang. Program MBG itu, seperti yang pernah saya tulis, bukan program pemenuhan gizi. Ini adalah program redistribusi kekayaan untuk para elit. Program ini memakan beaya yang amat besar sementara keuangan negara semakin negatif.

Saya ingat kebijakan Anda untuk memberikan insentif Rp 6 juta sehari untuk pemilik SPPG. Dengan cara itu, para pemilik SPPG akan impas (break even) dalam waktu 14 bulan.

Kemarin saya bertanya-tanya, apa tujuan dari kebijakan Anda ini. Sekarang saya mengerti. Para pemilih SPPG sebagian besar adalah para elit yang mendukung presiden ini. Kalau SPPG ini break even, akan lebih mudah bagi pemerintah untuk memotong anggaran program ini. Bisa Anda bayangkan bagaimana “pemberontakan” di dalam koalisi pendukung presiden akan terjadi bila SPPG mereka belum break even.

Anda mencoba memelihara koalisi ini. Saya tidak tahu apakah Anda sadar atau tidak bahwa Anda mentolerir banyak sekali tindakan-tindakan korup baik yang besar mau pun kecil karena itu strategis untuk kepentingan elektoral ke depan. Begitulah politik Indonesia berjalan — dengan cara halus dan kasar.

Akibatnya, kita tahu sendiri. Anda dan dua deputi Anda ditahan. Saya tidak tahu berapa besar yang Anda nikmati. Mungkin tidak banyak — tetapi itu cukup bagi boss Anda untuk menjebloskan Anda ke penjara. Dan mungkin Anda kalah dalam pertarungan “politik kantor.” Anda mungkin sekarang sadar bahwa boss Anda ternyata tidak seloyal yang Anda pikirkan. Anda memang sudah loyal kepada dia namun itu tidak berlangsung dua arah.

Nah mengapa Anda yang dicokok? Ini saya punya teori yang lain. Penahanan Anda dan dua deputi Anda adalah peringatan kepada yang lain. Anda lihat Purbaya? Ketika baru diangkat jadi Menteri Keuangan, songongnya luar biasa. Sekarang dia kedodoran. Uang negara habis. Dan dia berusaha tetap songong namun sangat jelas kelihatan di wajahnya, songong yang dipaksakan.

Juga, Perry yang jadi Gubernur BI? Atau Widyasari, ketua OJK? Mereka semua adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab atas ekonomi Indonesia. Bukankah ketiganya seharusnya mundur karena rupiah terlemah dalam sejarah dan bursa saham hancur lebur? Kalau mereka mundur, ekonomi akan lebih morat marit. Kepercayaan pasar yang sudah rendah akan lebih rendah.

Dengan penahanan Anda, boss Anda sebenarnya mau bilang: “Hei antek-antekku! Sekali kalian berkhianat, kalian akan seperti Dadan! Kalau kalian tidak becus mengabdi padaku, kalian akan seperti Dadan juga.”

Hanya saja persoalannya, jika orang yang dengan posisi setinggi Anda, mengelola dana sebesar yang pernah Anda kelola, bisa dijungkalkan begitu saja, siapa yang masih mau bekerja untuk boss macam ini?

Dan, satu-satunya pertahanan Anda sekarang adalah bicara terbuka. Anda sangat militan dalam menjaga BGN. Sekarang perlihatkan militansi Anda dalam memulihkan kehormatan Anda sendiri. Bicaralah. Bukalah kepada publik apa yang Anda ketahui dan tidak Anda ketahui.

Ini juga peringatan kepada para penjilat. Ada banyak faktor yang akan mempengaruhi lidah Anda. Tetapi faktor yang paling penting adalah orang yang Anda jilat. Dialah yang menentukan!

Alangkah malang hidup orang yang tergantung pada lidahnya dan menggadaikan otaknya!

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button