Viral

Erupsi Gunung Dukono Telan Korban Jiwa, Dua Warga Singapura dan Satu Pendaki Indonesia Dilaporkan Meninggal

Buletin.news – Erupsi hebat Gunung Dukono memicu tragedi pendakian yang menewaskan dua warga negara asing asal Singapura dan satu warga negara Indonesia. Hingga Jumat (8/5/2026), tim gabungan masih berjibaku melakukan evakuasi di tengah aktivitas vulkanik yang terus meningkat dan kondisi medan yang sangat berbahaya.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengatakan laporan sementara dari BPBD dan Basarnas menyebut dua warga Singapura telah meninggal dunia akibat terdampak erupsi di kawasan puncak Gunung Dukono.

“Informasi dari BPBD dan Basarnas ada dua yang meninggal. Warga negara asing, orang Singapura,” ujar Erlichson.

Belakangan, seorang warga asal Ternate juga dilaporkan ditemukan meninggal dunia di area gunung, sehingga total korban jiwa sementara menjadi tiga orang.

Menurut Erlichson, saat ini sedikitnya 34 personel gabungan dari Polres Halmahera Utara, TNI, BPBD, dan Basarnas sedang bergerak menuju lokasi pendaki untuk melakukan proses evakuasi.

“Posisi korban dan penyintas berada di sekitar bibir kawah. Ada sekitar 20 orang yang sempat terjebak,” katanya.

Kapolres menjelaskan, dari total pendaki yang berada di kawasan gunung, terdapat sembilan warga negara asing dan sisanya merupakan warga lokal. Sebagian besar pendaki asing disebut sudah berhasil turun dari gunung.

“Ada sembilan WNA, sisanya warga lokal. Sebanyak tujuh pendaki asing sudah turun semua. Mereka ini sebenarnya sudah mengetahui kondisi larangan karena Gunung Dukono masih berstatus Level II,” ujar Erlichson.

Meski demikian, proses evakuasi korban meninggal masih belum dapat dilakukan karena aktivitas erupsi terjadi berulang kali dan membahayakan keselamatan tim penyelamat.

“Korban masih di atas karena erupsi masih terus terjadi. Tim gabungan harus memastikan kondisi aman sebelum evakuasi dilakukan,” tambahnya.

Warga lokal yang ikut dalam tim penyelamatan, Aldy, mengatakan proses pencarian masih berlangsung di sekitar area puncak. Tim penyelamat saat ini berada di shelter terakhir, sekitar dua kilometer dari kawah.

“Kondisi di shelter terakhir aman, kami sedang berdiskusi untuk proses penyelamatan,” ujar Aldy melalui sambungan telepon yang terkendala sinyal buruk.

Ia menyebut tim sudah mengetahui posisi dua korban meninggal di area puncak, namun belum bisa melakukan evakuasi karena hujan abu dan lontaran material vulkanik masih terus terjadi.

“Satu korban lagi posisi tepatnya belum ditemukan,” katanya.

Menurut Aldy, pihak BPBD juga belum mengizinkan tim menyampaikan status resmi korban sebelum proses evakuasi selesai dilakukan.

Situasi di puncak Gunung Dukono disebut sangat berbahaya. Dari shelter terakhir, tim penyelamat masih melihat semburan abu vulkanik pekat disertai lontaran material batu keluar dari kawah.

“Yang terlihat dari shelter, abu dan material batu terus keluar,” ujar Aldy.

Ia mengungkapkan sebenarnya larangan pendakian telah diberlakukan sekitar dua minggu terakhir menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Dukono. Informasi larangan tersebut telah disebarkan melalui media sosial hingga poster di jalur pendakian.

Namun para pendaki diduga tetap masuk melalui jalur yang tidak memiliki pengawasan ketat karena Gunung Dukono belum mempunyai pos pendaftaran resmi.

Aldy menduga para pendaki sengaja naik untuk melihat langsung aktivitas kawah Dukono yang memang dikenal aktif.

Meski aktivitas vulkanik meningkat drastis, warga di sekitar permukiman dilaporkan masih dalam kondisi aman karena lokasi kampung berada cukup jauh dari pusat erupsi.

Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan total terdapat 20 pendaki di kawasan Gunung Dukono saat erupsi terjadi.

“Data sementara menunjukkan sebanyak 15 orang berhasil dievakuasi ke lokasi aman,” ujar Iwan.

Sementara itu, lima orang lainnya masih berada di area atas gunung, terdiri dari dua korban meninggal dunia, satu orang hilang, dan dua pendaki yang bertahan untuk membantu pencarian korban.

Dua korban meninggal diketahui merupakan warga negara Singapura bernama Timo dan Sahnas. Namun identitas tersebut masih menunggu verifikasi resmi dari tim SAR di lapangan.

“Hingga saat ini Tim SAR Gabungan masih terus berupaya menuju lokasi untuk melakukan evakuasi korban dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik Gunung Dukono,” kata Iwan.

Iwan menjelaskan operasi penyelamatan bermula setelah Kantor SAR menerima sinyal darurat atau SOS dari titik koordinat di kawasan Gunung Dukono.

Laporan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh Kepala Desa Mamuya yang menyebut terdapat sejumlah pendaki mengalami luka-luka akibat terdampak erupsi gunung.

“Kepala Desa Mamuya secara resmi meminta bantuan SAR untuk proses evakuasi para korban,” ujar Iwan.

Tinggi kolom letusan teramati mencapai sekitar 10.000 meter di atas puncak gunung atau sekitar 11.087 meter di atas permukaan laut.

PVMBG menyebut kolom abu berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara. Hingga laporan dibuat, aktivitas erupsi masih terus berlangsung.

Erupsi Gunung Dukono kali ini kembali menjadi pengingat keras akan tingginya risiko aktivitas pendakian di gunung api aktif, terutama ketika status vulkanik meningkat dan larangan resmi telah dikeluarkan otoritas terkait.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button