FokusUMKM

Kementerian UMKM Jadikan Kekayaan Laut Ternate Sebagai Motor Ketahanan Pangan Nasional

 

Buletin.news – Laut tidak sekadar hamparan air asin, melainkan urat nadi penggerak ekonomi kerakyatan dan tulang punggung ketahanan pangan nasional. Menyadari potensi raksasa tersebut, jajaran Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turun langsung menyambangi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ternate, Maluku Utara, pada Jumat (26/6/2026).

Kunjungan strategis ini dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, bersama Tenaga Ahli Menteri UMKM Bidang Pembiayaan dan Skema UMKM, Faisal Anwar. Rombongan ini meninjau langsung denyut aktivitas pendaratan, pemasaran, hingga jejaring distribusi hasil laut yang selama ini menjadi motor penggerak utama perekonomian masyarakat Maluku Utara.

Ekosistem Ekonomi yang Hidup dari Dermaga

Di Tempat Pemasaran Ikan (TPI), Faisal Anwar berdialog langsung dengan para pahlawan pesisir—mulai dari nelayan, pedagang, hingga pelaku UMKM pengolahan hasil perikanan. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana komoditas unggulan seperti tuna, cakalang, tongkol, kakap, hingga gurita berpindah tangan dari lambung kapal menuju sentra industri pengolahan dan pasar distribusi lintas daerah.

Menurut Faisal, PPN Ternate bukanlah sekadar pusat bongkar muat hasil laut, melainkan sebuah simpul nadi sentral yang mempertemukan nelayan, koperasi, UMKM, dan konsumen akhir dalam satu ekosistem yang solid. Ia menegaskan bahwa saat melihat aktivitas di pelabuhan tersebut, terlihat jelas sebuah rantai ekonomi yang hidup. Ikan yang ditangkap nelayan tidak berhenti di dermaga, melainkan masuk ke pasar, diolah oleh UMKM, dipasarkan melalui koperasi, dan pada akhirnya menjadi sumber pangan utama bagi masyarakat. Inilah ekosistem ekonomi kerakyatan yang akan terus diperkuat oleh pemerintah.

IMG 20260629 WA0003

Multiplier Effect Tangkapan Nelayan

Faisal menyoroti bahwa kekayaan bahari Maluku Utara adalah modal kapital yang luar biasa besar. Namun, untuk mendongkrak kesejahteraan secara maksimal, sektor ini menuntut intervensi berupa dukungan pembiayaan yang kuat, inovasi pengolahan yang mumpuni, serta strategi pemasaran yang jauh lebih modern.

Sektor perikanan terbukti memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang sangat erat dengan pertumbuhan UMKM. Manfaat perputaran uang di pelabuhan tidak hanya dinikmati oleh para nelayan yang melaut, tetapi juga menghidupi ribuan pelaku usaha lain di dalam rantai pasok turunan. Pergerakan ekonomi ini mengalir dari sektor hulu seperti penyedia jasa logistik dan pabrik es balok, menuju sektor tengah yang diisi oleh para produsen olahan hasil laut, hingga mencapai sektor hilir yang melibatkan koperasi, pedagang eceran, dan industri kuliner.

Satu ekor ikan dinilai mampu menciptakan nilai tambah yang berlipat ganda. Ketika disentuh oleh sentuhan inovasi UMKM menjadi produk turunan seperti abon, ikan asap, bakso ikan, fillet, hingga frozen food, nilai ekonominya meroket tajam dan secara otomatis membuka lapangan kerja baru. Oleh karena itu, pengembangan sektor perikanan mutlak harus dibarengi dengan program penguatan kapasitas UMKM.

Rantai nilai yang saling menguatkan ini menjadi bukti sahih bahwa kolaborasi dari hulu ke hilir mampu menghadirkan ketahanan pangan yang kokoh bagi negara. Dari laut lahir kehidupan yang memberikan penghidupan layak bagi nelayan, memutar roda bisnis UMKM, memperkuat posisi tawar koperasi, dan menyajikan asupan pangan bergizi ke meja makan rakyat Indonesia. Hal ini mencerminkan wajah ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya, di mana kekayaan alam yang dikelola dengan baik akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button