Tokoh

Triana Wulandari “Menyelamatkan Ingatan Nusantara”

Buletin.news – Naskah kuno bukan sekadar lembaran tua. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, tradisi, identitas dan jejak peradaban yang membentuk perjalanan sebuah bangsa. Ketika kertas mulai rapuh dimakan usia, tantangannya adalah bagaimana menyelamatkan isi naskah sebelum semuanya hilang.

Dr. Triana Wulandari hadir dalam upaya menjaga warisan tersebut melalui digitalisasi dan preservasi arsip sejarah serta kebudayaan Asia Tenggara.

Pemanfaatan teknologi digital memungkinkan dokumen-dokumen bersejarah dipindai, disimpan, dan diakses kembali tanpa harus terus-menerus menyentuh naskah aslinya. Dengan cara ini, pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip rapuh memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Upaya preservasi menjadi semakin penting bagi Indonesia yang memiliki kekayaan manuskrip dan arsip sejarah dalam jumlah besar. Naskah-naskah tersebut merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lalu, mulai dari pengetahuan lokal, sastra, pengobatan, keagamaan, hingga sistem sosial dan kebudayaan.

Bagi dunia akademik, digitalisasi juga membuka kesempatan lebih luas untuk melakukan penelitian. Dokumen yang sebelumnya hanya dapat diakses secara terbatas dapat dipelajari oleh peneliti dari berbagai tempat, sekaligus memperkuat pertukaran pengetahuan lintas negara.

Perhatian terhadap pelestarian warisan dokumenter juga menjadi bagian dari agenda internasional, termasuk melalui program Memory of the World UNESCO. Dalam konteks tersebut, penyelamatan arsip bukan hanya persoalan menjaga benda bersejarah, tetapi mempertahankan memori kolektif umat manusia.

Triana Wulandari memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Pemindaian digital bukan sekadar proses teknis, melainkan cara untuk memastikan suara generasi terdahulu tetap dapat didengar oleh generasi yang belum lahir.

Sebab, ketika sebuah naskah hilang, yang hilang bukan hanya kertas dan tinta. Bisa jadi ikut hilang pengetahuan, pengalaman, dan bagian penting dari identitas sebuah masyarakat.

“Bangsa yang kehilangan memorinya tentang masa lalu adalah bangsa yang melangkah tanpa arah di masa depan.”

Warisan itu mengajarkan bahwa merawat sejarah bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan memastikan masa depan tidak kehilangan akar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button