Tokoh

Masri Singarimbun Membaca Manusia di Balik Angka

Buletin.news – Bagaimana memahami pertumbuhan penduduk tanpa kehilangan wajah manusia di balik angka-angka statistik? Pertanyaan itulah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Prof. Masri Singarimbun, salah satu pelopor studi kependudukan dan antropologi di Indonesia.

Lulusan Australian National University (ANU) tersebut dikenal melalui penelitian lapangan yang mendalam mengenai masyarakat pedesaan, demografi, kesehatan reproduksi dan kesejahteraan keluarga. Beliau tidak melihat penduduk sekadar sebagai angka dalam tabel statistik, tetapi sebagai manusia yang hidup dengan persoalan, harapan dan pilihan masing-masing.

Salah satu warisan pentingnya adalah perintisan Pusat Studi Kependudukan di Universitas Gadjah Mada, yang kemudian berkembang menjadi pusat kajian penting dalam memahami persoalan demografi Indonesia. Dari lingkungan akademik tersebut, penelitian kependudukan berkembang menjadi bidang keilmuan yang mempertemukan data demografi dengan realitas sosial dan budaya.

Pendekatan penelitian lapangan yang dikembangkan Masri memberikan perhatian besar pada pengalaman masyarakat. Beliau menunjukkan bahwa angka kelahiran, kematian, migrasi, kesehatan reproduksi dan ukuran keluarga tidak dapat dipahami secara utuh tanpa melihat budaya, ekonomi, pendidikan, serta kondisi sosial yang membentuk keputusan manusia.

Gagasannya mendapat perhatian luas dari komunitas penelitian internasional dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam isu kependudukan dan pembangunan. Karya-karyanya ikut memperkuat cara pandang bahwa persoalan demografi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kualitas hidup dan pembangunan masyarakat.

Bagi negara berkembang, pendekatan tersebut sangat penting. Kebijakan kependudukan yang hanya berangkat dari statistik berisiko mengabaikan suara masyarakat yang menjadi objek kebijakan. Penelitian harus turun ke lapangan, mendengar pengalaman warga, dan memahami konteks kehidupan mereka.

Warisan Masri Singarimbun karena itu bukan hanya tentang angka atau metodologi penelitian. Beliau mewariskan cara melihat manusia secara lebih utuh, bahwa di balik setiap data kependudukan terdapat keluarga, kehidupan, perjuangan dan masa depan.

“Angka-angka statistik demografi akan tidak berguna jika kita tidak mampu melihat manusia nyata dan perjuangan hidup di baliknya.”

Pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini bahwa kebijakan yang baik bukan hanya membaca angka, tetapi memahami manusia yang berada di balik angka tersebut.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button