Viral

Pemilu 2029 dan Peluang Generasi Milenial 

 

Buletin.news – Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) baru saja menetapkan jumlah pemilih dalam rekapitulasi pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB) tingkat nasional semester I tahun 2026 yang berjumlah 214.354.667 orang pada Senin 20 Juli 2026. Jumlah pemilih tersebut terdiri dari 49,85% laki-laki dan 50,15% perempuan. Dibandingkan dengan data pemilih berkelanjutan (DPB) semester II tahun 2025, jumlah pemilih meningkat sebesar 1,17%. Dari total tersebut, sebanyak 212.406.069 pemilih berada di dalam negeri dengan tersebar di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, 7.285 kecamatan, dan 83.737 desa/kelurahan.

Ketua Divisi Data dan Informasi KPU RI Betty Epsilon Idroos menjelaskan bahwa generasi milenial mendominasi jumlah pemilih terbesar dalam pemilu 2029. Berdasarkan generasi paling banyak generasi milenial (Gen Y) sebanyak 32,13%, kelompok pemilih terbesar berikutnya adalah generasi X sebesar 27,13%, disusul dengan generasi Z sebesar 24,56%, sedangkan generasi baby boomer sebanyak 14,29%, generasi pre-boomer sebanyak 1,89%. Selain itu KPU RI mencatat terdapat sekitar 963.050 pemilih penyandang disabilitas atau sekitar 0,45% dari total pemilih, penyandang disabilitas fisik menjadi kelompok terbanyak yaitu mencapai 38,1% dari total pemilih disabilitas.

Adapun 10 provinsi terbanyak dalam PDPB) semester I tahun 2026 yaitu: (1) Jawa Barat dengan 37.759.992 pemilih; (2) Jawa Timur dengan 32.503.002 pemilih; (3) Jawa Tengah sebanyak 29.332.029 pemilih; (4) Sumatera Utara dengan 11.360.110 pemilih; (5) Banten dengan 9.338.877 pemilih; (6) DKI Jakarta dengan 8.234.735 pemilih; (7) Sulawesi Selatan dengan 7.013.711 pemilih; (8) Lampung dengan 6.781.784 pemilih; (9) Sumatera Selatan dengan 6.668.823 pemilih; dan (10) Riau dengan 5.154.166 pemilih.

Sedangkan 10 provinsi dengan jumlah pemilih paling sedikit yaitu: (1) Papua Selatan dengan 387.710 pemilih; (2) Papua Barat dengan 394.946 pemilih; (3) Papua Barat Daya dengan 453.204 pemilih; (4) Kalimantan Utara dengan 546.534 pemilih; (5) Papua dengan 797.329 pemilih; (6) Gorontalo dengan 915.402 pemilih; (7) Maluku Utara dengan 1.012.578 pemilih; (8) Sulawesi Barat dengan 1.034.703 pemilih; (9) Kepulauan Bangka Belitung dengan 1.133.583 pemilih; dan (10) Papua Tengah dengan 1.162.325 pemilih.

Hasil studi dari Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkeley tahun 2011 di Amerika Serikat tentang generasi milenial USA yaitu: (1) Minat membaca secara konvensional kini sudah menurun karena Generasi Milenial (Gen Y) lebih memilih membaca lewat smartphone mereka; (2) Milenial wajib memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi; (3) Milenial pasti lebih memilih ponsel daripada televisi. Menonton sebuah acara televisi kini sudah tidak lagi menjadi sebuah hiburan karena apapun bisa mereka temukan di telepon genggam; dan (4) Milenial menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambil keputusan mereka. Sedangkan menurut Yoris Sebastian dalam bukunya “Generasi Langgas Millennials Indonesia”, ada beberapa keunggulan dari generasi milenial, yaitu ingin serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, kreatif, dinamis, melek teknologi, dekat dengan media sosial, dan sebagainya.

Direktur Eksekutif Laboratorium Politik Hukum (Labpolhum) MHZ Centre, Muhammad Haris Zulkarnain mengapresiasi keberadaan generasi milenial sebagai pemilih yang mendominasi untuk pemilu 2029 nantinya. Generasi milenial dapat berpartisipasi dalam pemilu 2029 baik sebagai pemilih, peserta pemilu, atau pemantau pemilu. Sehingga peran apapun yang dijalankan oleh generasi milenail ini sangat menentukan nasib bangsa ini kedepan.

Haris mengajak generasi milenial untuk tidak apatis dengan kondisi perpolitikan saat ini, sebab semua kebijakan negara dan terkait hajat hidup orang banyak diatur lewat politik. Generasi milenial dapat berperan nyata dengan mengedukasi masyarakat di lingkungan disekitarnya, selektif dan kritis dalam memilih pemimpin pusat dan daerah serta wakilnya di parlemen, terlibat langsung sebagai penyelenggara pemilu, terlibat sebagai pemantau pemilu, mengkritisi setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, atau terjun langsung sebagai peserta pemilu, sudah saatnya generasi milenial diberikan kesempatan untuk menentukan arah dan masa depan bangsa saat ini, generasi milenial ini generasi paling tangguh, karena mereka ada di pertengahan antara generasi-generasi lainnya sebagai penyeimbang antara generasi boomer dan Gen Z.

Partai politik di pusat dan daerah saat ini juga harus memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi generasi milenial, baik di struktur kepartaian dan jabatan strategis di partai, karena mereka memiliki ide dan kreativitas yang relevan terhadap keberlangsungan dan tata kelola partai politik di era modern seperti sekarang. Tutup Haris.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button