Ferry Irwan “Merangkul Kader, Memimpin dengan Hati”

Buletin.news – Di tengah dinamisnya perkembangan tata kelola organisasi di Indonesia, keberadaan figur pimpinan yang humanis dan dekat dengan jajarannya menjadi krusial. Ferry Irwan, Ketua Umum PANDAWA Manajemen Indonesia, tampil mengemuka lewat gaya kepemimpinan khas: humble (rendah hati), humoris dan senantiasa merangkul seluruh elemen tanpa pandang bulu.
Pendekatan kepemimpinan yang berfokus pada kerendahan hati dan asas kekeluargaan tersebut tak lepas dari rekam jejak panjangnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Bagi Ferry, prinsip kaderisasi dan persaudaraan yang ditanamkan sejak berproses di PMII merupakan fondasi utama dalam menahkodai PANDAWA Manajemen Indonesia.
Hingga saat ini, pintu silaturahmi Ferry Irwan selalu terbuka lebar bagi para kader PMII dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Baik kader yang masih aktif berproses di tingkat rayon, komisariat dan cabang, maupun alumni yang sudah menyelesaikan masa baktinya, kerap menjadikan sosoknya sebagai jujukan utama saat berada di ibu kota.
“PMII bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan ikatan nilai dan persaudaraan seumur hidup. Dari mana pun asal daerahnya, setiap kader yang datang adalah saudara yang wajib kita sambut, kita dengarkan dan kita dukung proses tumbuh kembangnya,” ujar Ferry Irwan, Ketua Umum PANDAWA Manajemen Indonesia.
Ciri khas lain dari kepemimpinan Ferry Irwan adalah kemampuannya membangun komunikasi yang cair dan menyenangkan. Lewat pendekatan yang penuh humor proporsional, beliau berhasil mengeliminasi sekat kaku antara pimpinan dan anggota, serta antara senior dan junior. Atmosfer terbuka ini terbukti mampu mendorong lahirnya ide-ide kreatif serta loyalitas anggota terhadap organisasi.
Di bawah kepemimpinannya di PANDAWA Manajemen Indonesia, nilai-nilai pergerakan tersebut ditransformasikan ke dalam tata kelola profesional. Ferry terus berkomitmen membukakan jalan serta peluang pengembangan kapasitas bagi generasi muda dan kader pergerakan agar mampu berkontribusi nyata bagi bangsa.
Ferry juga mengingkatan bahwa jika suatu saat kita mempunyai jabatan jangan bersikap angkuh. Apalagi pada orang-orang yang sebelumnya tumbuh bersama kita. Karena sikap jumawa atau sombong saat berada di puncak pencapaian kerap menjadi jebakan yang menjatuhkan. Sebaliknya, perasaan minder atau rendah diri saat masih berada di bawah juga tidak boleh membelenggu potensi diri. Kehidupan adalah sebuah proses yang berkesinambungan, di mana posisi di atas maupun di bawah hanyalah bagian dari siklus belajar.
“Kepemimpinan terbaik adalah kepemimpinan yang mampu merangkul dan membawa manfaat bagi orang banyak” demikian pesan moral yang ditekankan Ferry. Pemimpin yang tangguh bukanlah mereka yang berdiri sendiri di puncak, melainkan mereka yang mampu merangkul seluruh elemen dan tumbuh bersama masyarakat yang dipimpinnya analogi sederhana yang harus kita ingat. “jelas Ferry.”




