Tokoh

Sri Niwarti Merancang Pangan Tahan Iklim

Buletin.news – Perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca, tapi juga mengancam sesuatu yang paling mendasar bagi kehidupan manusia, pangan, kekeringan panjang, banjir dan cuaca ekstrem membuat pertanian menghadapi tantangan yang semakin berat.

Di tengah persoalan tersebut, Prof. Sri Niwarti menaruh perhatian pada satu pertanyaan penting yakni bagaimana menghasilkan tanaman pangan yang mampu bertahan ketika lingkungan semakin tidak menentu?

Melalui pemuliaan tanaman berbasis marka molekuler, beliau mengembangkan penelitian terhadap padi dan palawija yang diharapkan memiliki kemampuan adaptasi lebih baik terhadap kondisi ekstrem, termasuk kekeringan dan genangan.

Pendekatan molekuler memberikan peluang bagi para peneliti untuk mengidentifikasi karakter genetik tertentu yang berkaitan dengan ketahanan tanaman. Dengan cara tersebut, proses pemuliaan dapat diarahkan secara lebih presisi untuk menghasilkan varietas yang sesuai dengan tantangan lingkungan.

Riset di bidang agronomi seperti yang dikembangkan Sri menjadi semakin penting bagi negara-negara yang bergantung pada pertanian. Ketika perubahan iklim membuat pola musim sulit diprediksi, ketahanan varietas tanaman menjadi salah satu bagian penting dari strategi menjaga produksi pangan.

Kontribusi penelitian pemuliaan tanaman juga berkaitan erat dengan agenda ketahanan pangan global. Perkembangan varietas yang lebih adaptif dapat membantu petani menghadapi tekanan lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan dalam jangka panjang.

Namun, di balik istilah seperti marka molekuler, pemuliaan tanaman dan adaptasi iklim, terdapat persoalan yang sangat sederhana yaitu memastikan manusia tetap memiliki makanan di atas meja.

Bagi Sri Niwarti, penelitian pertanian bukan sekadar mengejar pencapaian akademik, tapi bagian dari investasi untuk masa depan. Benih yang lebih kuat hari ini dapat menjadi salah satu benteng menghadapi ketidakpastian pangan esok hari.

“Menanam benih yang kuat hari ini berarti memastikan tidak ada anak cucu kita yang menderita kelaparan di masa depan.”

Pesan tersebut mengingatkan bahwa menghadapi krisis iklim tidak cukup hanya dengan mengurangi emisi. Kita juga harus mempersiapkan pertanian agar mampu bertahan. Karena, masa depan ketahanan pangan mungkin dimulai dari sebutir benih yang ditanam hari ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button