
Buletin.news – Bisnis cuci baju alias laundry kini bukan lagi sekadar usaha sampingan, melainkan sudah menjelma jadi lifestyle baru masyarakat di berbagai daerah. Namun, maraknya pembukaan gerai laundry baru ternyata menyimpan bahaya terselubung. Saat menghadiri perayaan HUT ke-11 Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) di Jakarta, Menteri UMKM mengingatkan agar para pelaku usaha tak asal buka lapak demi mencegah terjadinya kanibalisasi pasar yang bisa saling mematikan.
Menteri UMKM menekankan pentingnya melakukan pemetaan potensi pasar dan sebaran lokasi usaha secara terstruktur. Menurutnya, penumpukan jumlah pengusaha yang terkonsentrasi di satu titik wilayah justru akan memperketat persaingan hingga menggerus pendapatan. Jika suatu lokasi sudah terlalu padat, para pengusaha baru disarankan mengalihkan ekspansinya ke wilayah lain yang masih menyimpan potensi besar demi menjaga ekosistem bisnis tetap sehat.
Langkah penataan ini dinilai sangat vital mengingat industri laundry berperan besar dalam menyerap tenaga kerja. Satu unit usaha laundry tercatat mampu menghidupi dua, tiga, hingga lima orang pekerja di luar rantai pasok penyedia bahan kimia cuci dan peralatan pendukung. Oleh sebab itu, menjaga keberlangsungan bisnis laundry bukan cuma soal menyelamatkan kantong pemilik modal, tetapi juga menyangkut keberlanjutan mata pencaharian para pegawainya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian UMKM siap memfasilitasi para pengusaha laundry untuk mengakses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui perbankan penyalur. Fasilitasi yang berawal dari aspirasi Ketua DPP ASLI Riau, Kabul Santosa, ini diharapkan menjadi angin segar bagi pengusaha yang ingin melakukan ekspansi bisnis secara sehat. Dengan begitu, industri laundry nasional tak cuma sekadar menjamur, tetapi juga tumbuh tangguh dan berkelanjutan.




