
Buletin.news – Upaya mengerek Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia ke panggung global semakin agresif disuarakan. Melalui ajang bergengsi The 61st APEC Small and Medium Enterprises Working Group Meeting (SMEWGM) yang dihelat di Seoul, Korea Selatan, pada 21–22 Mei lalu, delegasi Kementerian UMKM hadir membawa misi krusial: mengintegrasikan kekuatan ekonomi kerakyatan nasional dengan visi strategis kawasan Asia-Pasifik.
Delegasi yang dikawal oleh Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana, beserta Staf Khusus Menteri UMKM, Triana Krisandini Tandjung, memanfaatkan forum beranggotakan 21 entitas ekonomi APEC tersebut untuk membedah strategi penguasaan teknologi lintas negara.
Senjata Kecerdasan Buatan dan Ekosistem Digital
Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (26/5), Reghi Perdana menegaskan bahwa dinamika ekonomi global dan restrukturisasi rantai pasok dunia menuntut UMKM untuk beradaptasi dengan cepat. Penguasaan infrastruktur digital—mulai dari unjuk gigi di platform e-commerce, adopsi sistem pembayaran lintas batas (cross-border payment), hingga pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) untuk membaca intelijen pasar—kini menjadi senjata mutlak agar UMKM mampu mendobrak pasar internasional.
“Berbekal kemajuan teknologi di Indonesia dan kapasitas para pelaku UMKM kita saat ini, saya sangat optimistis kita mampu menciptakan hasil yang positif dan memenangkan persaingan di rantai pasok global,” tegas Reghi.
Sikap percaya diri ini sangat beralasan. Mengacu pada data APEC, sektor UMKM memegang dominasi absolut dengan populasi mencapai lebih dari 97 persen dari total entitas bisnis di Asia-Pasifik. Sektor ini juga dinobatkan sebagai penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus penyumbang separuh dari total output usaha sektor swasta di kawasan tersebut.
Sebagai bentuk dukungan penuh dari dalam negeri, pemerintah telah menyiapkan amunisi andalan bernama SAPA UMKM. Platform sistem data tunggal ini dirancang sebagai jangkar digitalisasi nasional yang mengintegrasikan berbagai layanan pemberdayaan usaha agar intervensi negara menjadi jauh lebih terarah dan berdampak nyata.
Menyelaraskan Langkah Menuju Guangzhou
Kehadiran delegasi di Seoul juga menjadi langkah pemanasan strategis untuk mengawal implementasi Rencana Strategis SMEWG 2025–2028. Rencana cetak biru ini mematok lima prioritas utama: penguatan ekosistem perusahaan rintisan (startup), pertumbuhan melalui kemudahan akses pembiayaan, perluasan pasar internasional, percepatan transformasi digital, serta transisi menuju ekonomi hijau (bio-circular-green economy).
Staf Khusus Menteri UMKM, Triana Krisandini Tandjung, menekankan bahwa partisipasi aktif di Seoul adalah bukti konkret komitmen negara dalam memperjuangkan kepentingan UMKM nasional di meja perundingan global. “Kehadiran kita di forum APEC memastikan bahwa arah kebijakan nasional tidak tertinggal dan selalu selaras dengan visi strategis Asia-Pasifik demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang benar-benar inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Segenap gagasan strategis dari Seoul ini nantinya akan dimatangkan lebih lanjut dalam agenda besar The 32nd APEC SME Ministerial Meeting yang siap digelar pada 4 September 2026 di Guangzhou, China. Mengusung tema ikonis “Innovation Drives Progress, Partnership Delivers Prosperity”, pertemuan tingkat menteri tersebut akan menjadi palagan penting berikutnya bagi Indonesia untuk memperjuangkan inovasi teknologi sains, pemberdayaan cerdas berbasis digital, dan pembangunan inklusif bagi seluruh pengusaha kecil di Tanah Air.



