Post Views: 1,010
Buletin.news – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026), menjadikannya posisi terlemah sepanjang sejarah. Merespons pelemahan tajam tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah akan mulai membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah mulai besok.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menghadiri agenda di kantornya di Jakarta. Ia menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan besar terhadap mata uang Garuda yang terus melemah dalam beberapa waktu terakhir.
“Kita akan mulai membantu besok,” ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, langkah yang akan ditempuh pemerintah ialah memperkuat stabilisasi pasar keuangan melalui intervensi di pasar obligasi atau bond market. Strategi tersebut akan dilakukan menggunakan skema Bond Stabilization Fund (BSF), instrumen yang disiapkan untuk menjaga stabilitas pasar surat berharga negara di tengah gejolak ekonomi dan tekanan global.
“Mungkin dengan masuk ke bond market, itu yang BSF, tapi belum fund semuanya. Kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini dulu, besok mulai jalan,” katanya.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah mulai mengambil peran lebih aktif dalam menjaga kepercayaan pasar, setelah tekanan terhadap rupiah semakin meningkat akibat sentimen global dan penguatan dolar AS.
Meski demikian, Purbaya tetap menegaskan bahwa tanggung jawab utama menjaga kestabilan nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Ia menyatakan pemerintah percaya penuh terhadap kemampuan bank sentral dalam mengendalikan gejolak kurs.
“Tugas Bank Sentral hanya satu kan, menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di Bank Sentral,” ujar Purbaya.
Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS memicu kekhawatiran pelaku pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, biaya impor, serta beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta.
Kondisi ini juga menjadi sorotan karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, serta meningkatnya arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.
Sejumlah analis menilai koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional dan meredam kepanikan pelaku pasar terhadap pergerakan rupiah yang semakin volatil.