Pangan

Serapan Beras Meroket 700%, Kepala Bapanas Bidik Pasar Ekspor

Buletin.news – Indonesia menunjukkan sinyal kuat kembalinya kejayaan pangan di awal tahun 2026. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan adanya lonjakan drastis serapan beras dalam negeri yang mencapai 700 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Capaian fantastis ini membuka peluang bagi Indonesia untuk kembali merambah pasar internasional melalui ekspor beras ke negara-negara sahabat.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (5/2/2026), Amran memaparkan bahwa realisasi serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada Januari 2026 menembus 112 ribu ton. Angka ini melonjak tajam dari capaian Januari tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran 14 ribu ton.

“Tahun lalu itu 14 ribu ton sebulan. Tahun ini 112 ribu ton. Ini naik 700 persen di Januari. Jika tren ini konsisten, hampir pasti kalau ada negara sahabat yang butuh beras, mungkin kita bisa suplai (ekspor),” tegas Amran.

Data Bapanas mencatat, serapan 112 ribu ton di awal tahun ini merupakan realisasi tertinggi dalam lima tahun terakhir. Hal ini menjadi indikator positif bagi ketahanan pangan nasional di bawah komando Presiden Prabowo Subianto.

Optimisme ekspor ini didorong oleh proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang memperkirakan produksi beras nasional periode Januari–Maret 2026 mencapai 10,16 juta ton. Angka tersebut naik 1,39 juta ton dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Guna mengawal momentum ini, pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga lembaga (Bapanas, Kemenkeu, dan KBUMN) pada 9 Januari 2026. Regulasi ini memberikan mandat penuh kepada BUMN Pangan untuk memprioritaskan pembelian produksi petani lokal dengan target pengadaan mencapai 4 juta ton.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan kesiapannya menjalankan mandat tersebut. Per 2 Februari 2026, Bulog telah mengamankan 112.032 ton setara beras.

“Kami mengoptimalkan tim ‘Jemput Pangan’ untuk komoditas gabah kering panen (GKP) dan jagung. Kami bersinergi dengan TNI, Polri, serta Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) untuk memastikan seluruh hasil panen petani, apa pun kualitasnya (any quality), terserap oleh negara,” ujar Rizal.

Langkah agresif ini diambil untuk memastikan negara hadir saat panen raya tiba, menjaga harga di tingkat petani tidak anjlok, sekaligus memperkuat stok nasional sebelum memutuskan kebijakan ekspor.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button