
Mahkota dari Timur
Di balik pegunungan karang yang berdiri tegak,
ombak memecah sunyi dengan kehendak, Lahir
mutiara-mutiara hitam yang tak terjamah,
Membawa api dalam dada, meski hidup tampak Lelah dan kalah.
Mereka tak butuh panggung yang berhias intan,
Karena langit biru adalah atap kesetiaan. Dari tenggorokan
yang ditempa angin garam, Keluar nada yang mampu meruntuhkan malam.
Mungkin tangan-tangan itu kasar dan berdebu,
Namun di jemarinya, amarah menjadi syahdu.
Emas mereka bukan yang tertimbun di perut bumi,
Melainkan talenta murni yang mengalir di nadi.
Mahkota Timur bukan lahir dari logam mulia,
Tapi terlahir dari bakat dan doa, Suara mereka
adalah mandat dari sang fajar, Mengingatkan pada dunia
bahwa Timur punya mutiara yang meskipun tidak dilirik
ia tetap bersinar diwaktu yang tepat.
Dengarlah, suara itu bukan sekadar nyanyian,
Tapi gemuruh sejarah yang mendobrak cakrawala
dalam asa melenting tinggi melampaui puncak tertinggi,
Menggetarkan dunia yang sempat pura-pura tuli.
Jangan ragukan akal, jangan remehkan bakat,
Buktinya suara emas kami mampu mengguncang jagat.
Lirik kami adalah api yang membakar ragu, Membangkitkan
mimpi yang lama membeku. Nada kami adalah cermin bagi
jiwa yang angkuh, Mengingatkan bahwa di Timur, kasih adalah kebenaran yang paling utuh.
Ingatan jangan hanya melihat kami sebagai tanah tempat matahari terbit,
tapi lihatlah kami sebagai matahari yang cahayanya tidak meminta
izin untuk bersinar dan kehangatannya menghidupkan dunia.
Kami adalah masa depan yang tak terelakkan,
Dan kami anak-anak Timur adalah emas dunia yang takkan terpadamkan.
Jakarta 10 Januari 2026
Nurangsih S. Hasan., S.Pd., M.Pd.




