Legislatif

Tolak Wacana Sekolah Daring demi Hemat Energi, DPR Ingatkan Bahaya Penurunan Kognitif Siswa

 

Buletin.news – Rencana pemerintah untuk kembali menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring pada April 2026 sebagai langkah efisiensi energi mendapat penolakan keras dari parlemen. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, menegaskan bahwa mengorbankan sektor pendidikan demi menekan dampak kenaikan harga minyak dunia adalah langkah yang kurang tepat dan berisiko tinggi bagi masa depan anak bangsa.

​Politikus dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut mengajak semua pihak untuk berkaca pada pengalaman pendidikan Indonesia saat pandemi COVID-19 melanda. Menurutnya, sistem sekolah daring kala itu menyisakan segudang masalah yang sangat kompleks, mulai dari ketimpangan akses teknologi hingga memicu fenomena learning loss. Kondisi di mana siswa kehilangan motivasi serta minat belajar tersebut terbukti telah menurunkan kemampuan kognitif anak-anak secara nyata.

​”Pengalaman kita melaksanakan pembelajaran secara daring menunjukkan bahwa sistem ini membawa dampak yang tidak sederhana. Selain ancaman ketertinggalan akademis secara masif, kita juga dihadapkan pada masalah psikologis dan terganggunya kesehatan fisik para pelajar akibat terlalu lama menatap layar,” ungkap Esti dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (23/3).

​Lebih jauh, Esti menyoroti hilangnya aspek afektif dalam pendidikan jika para siswa harus kembali dipaksa belajar dari rumah. Ia menilai bahwa pembentukan karakter, penanaman kedisiplinan, serta pengembangan kepribadian sangat sulit diimplementasikan secara optimal melalui ruang virtual. Baginya, interaksi sosial secara langsung di lingkungan sekolah tidak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi apa pun dalam hal mendidik moral peserta didik.

​Oleh karena itu, pimpinan Komisi X DPR ini mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang wacana tersebut secara mendalam dan mencari rumusan alternatif kebijakan ekonomi lain yang lebih masuk akal. Esti menggarisbawahi bahwa hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tatap muka yang berkualitas sama sekali tidak boleh dikorbankan, karena dampaknya akan sangat merugikan bagi generasi penerus di masa mendatang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button