Riyanda Barmawi: Manifesto Luka Angsih Adalah Langkah Korektif Menuju Kedaulatan Intelektual
Buletin.news – Aktivis dan intelektual muda, Riyanda Barmawi, menekankan pentingnya merawat tradisi literasi sebagai bentuk pertahanan kedaulatan intelektual. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam peluncuran buku puisi naratif karya Angsih yang bertajuk Manifesto Luka “Melawan Kemustahilan Semesta”, Jumat (27/02/2026).
Di acara launching tersebut Riyanda menyoroti karya Angsih dari sudut pandang sosiologis dan reflektif. Ia melihat adanya kontras tajam antara mentalitas anak desa dan anak kota yang terekam kuat dalam bait-bait tulisan tersebut.
Menurut Riyanda, kondisi alamiah lingkungan pedesaan secara tidak langsung membentuk ketangguhan dan kemampuan bertahan (survival kit) yang luar biasa pada seseorang, bahkan dalam situasi darurat sekalipun.
“Apa yang ditulis Angsih adalah langkah korektif terhadap kehidupan di masa depan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia mampu mengurai perjalanan hidupnya secara jujur,” ujar Riyanda di hadapan para audiens.
Ia menambahkan bahwa kejujuran dalam berkarya adalah keberanian yang langka. “Tidak semua orang punya keberanian dan kemampuan untuk menarasikan kesehariannya menjadi sebuah refleksi yang bermakna,”
Lebih jauh, Riyanda memberikan kritik konstruktif terhadap dunia aktivisme saat ini. Ia menyayangkan mulai lunturnya tradisi literasi intelektual di kalangan aktivis.
“Karya adalah tradisi merawat intelektualitas. Dengan merawat tradisi itu, kita sedang mempertahankan kedaulatan intelektual kita,” tegas Riyanda.
Selain masalah literasi, Riyanda juga menyinggung isu gender dan emansipasi yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan hingga hari ini. Kehadiran buku Manifesto Luka dianggap sebagai angin segar karena mampu memotret keresahan tersebut melalui kacamata sastra.
Meskipun mengaku ini adalah kali pertama dirinya menghadiri peluncuran buku yang berfokus pada puisi naratif, Riyanda mengapresiasi kedalaman makna yang ditawarkan Angsih dalam melawan “kemustahilan semesta”




