Manifesto Luka: Gugatan Angsih Terhadap Kemustahilan Semesta Resmi Dirilis
Buletin. news – Di tengah riuhnya belantara beton ibu kota, sebuah pernyataan sikap lahir melalui tinta. Penulis Angsih resmi meluncurkan karya terbarunya, Manifesto Luka Melawan Kemustahilan Semesta. Acara ini bukan sekadar peluncuran buku biasa, melainkan sebuah mimbar akademik dan kultural yang menggali kedalaman narasi hidup.
Hadir sebagai keynote speaker, Dr. Ahmad Abdul Basith, M.I.Kom., Dosen Fikom Unpad, memberikan ulasan historis yang membakar semangat. Ia menarik garis lurus antara karya Angsih dengan tradisi intelektual para pendahulu.
“Kita harus ingat bahwa Mahbub Djunaidi Ketua Umum pertama PMII, adalah seorang penulis luar biasa yang dijuluki “Pendekar Pena”. Maka, genealogi menulis ini adalah mandat sejarah yang harus dilanjutkan oleh generasi kita,” tegas Dr. Basith.
Tak luput, Dr. Basith melontarkan candaan internal yang disambut tawa hangat para hadirin mengenai etos pergerakan dan tradisi menulis.
“Mungkin karena tangan kita terlalu sering terkepal (salam pergerakan), jadi nulisnya agak susah. Sesekali, tangan itu harus dibuka, jemarinya digunakan untuk menari di atas papan tik atau kertas,” selorohnya.
Sementara itu, Riyanda Barmawi selaku pembicara kunci kedua, membedah buku ini dari sudut pandang sosiologis dan reflektif. Ia menyoroti kontras antara mentalitas anak desa dan kota yang tercermin dalam tulisan Angsih.
Menurut Riyanda, ada kondisi alamiah yang melatih anak desa untuk menjadi tangguh dan memiliki kemampuan bertahan (survival kit) dalam situasi darurat sekalipun.
“Apa yang ditulis Angsih adalah langkah korektif terhadap kehidupan di masa depan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia mampu menguar perjalanan hidupnya secara jujur. Tidak semua orang punya keberanian dan kemampuan untuk menarasikan kesehariannya menjadi sebuah refleksi yang bermakna,” ujar Riyanda.
Buku ini dinilai berhasil memotret bagaimana luka tidak seharusnya dipendam, melainkan dialektikakan menjadi energi untuk melawan “kemustahilan” yang seringkali dipaksakan oleh keadaan. Melalui buku ini, Angsih membuktikan bahwa narasi personal bisa menjadi cermin kolektif bagi mereka yang sedang berjuang di garis depan hidupnya masing-masing.




