
Kementerian UMKM Perkuat Sektor Pertanian “Akses Pasar dan Pembiayaan Digenjot, Petani Jadi Fokus Utama”
Buletin.news – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mengakselerasi penguatan sektor pertanian sebagai tulang punggung mayoritas pelaku usaha kecil di Indonesia. Melalui strategi terintegrasi, pemerintah mendorong perluasan akses pasar dan pembiayaan guna meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani dan pelaku usaha pangan.
Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki posisi krusial dalam ekosistem UMKM nasional dan menjadi prioritas dalam kebijakan penguatan ekonomi masyarakat.
“Ketika berbicara tentang UMKM, kita tidak bisa melepaskannya dari sektor pertanian. Kontribusinya sangat besar dan menjadi prioritas bersama,” ujar Riza dalam forum akademik di Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Bali,
Jumat (24/4/2026).
Data Kementerian UMKM menunjukkan, dari sekitar 56–60 juta UMKM di Indonesia, hampir separuhnya bergerak di sektor pertanian dan pangan. Kondisi ini menegaskan bahwa penguatan UMKM harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan nilai tambah di sektor tersebut.
Namun demikian, sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Di antaranya adalah skala usaha yang kecil, kapasitas produksi terbatas, serta lemahnya keterhubungan dengan pasar. Akibatnya, banyak petani belum memiliki kepastian pasar maupun harga jual yang menguntungkan.
“Sering kali produk sudah dihasilkan, tetapi akses pasar belum tersedia atau harga belum berpihak pada petani. Ini menjadi pekerjaan rumah besar,” tegas Riza.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong pembangunan ekosistem UMKM yang lebih kuat dan terintegrasi. Fokus kebijakan meliputi peningkatan akses pembiayaan, penguatan inovasi produk, serta konektivitas dengan rantai pasok dan industri yang lebih luas.
Dalam aspek pembiayaan, pemerintah terus memperluas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen utama penguatan sektor produktif. Dari total alokasi Rp 295 triliun, realisasi hingga 21 April 2026 telah mencapai Rp 84,8 triliun, dengan sektor pertanian menyerap Rp 32,73 triliun menunjukkan keberpihakan nyata pada sektor pangan.
“Kami memastikan pembiayaan benar-benar mengalir ke sektor produktif, khususnya pertanian. Ke depan, porsinya akan terus ditingkatkan,” ujarnya.
Selain itu, Kementerian UMKM juga mendorong inovasi dan hilirisasi produk melalui pengembangan ekosistem kewirausahaan berbasis kolaborasi. Sinergi dengan perguruan tinggi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai penting untuk menciptakan UMKM yang adaptif, inovatif, dan mampu menembus pasar global.
Riza menegaskan, keberhasilan penguatan UMKM sektor pertanian tidak dapat dicapai secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang konsisten dan berkelanjutan.
“Ini agenda besar bersama. Kolaborasi menjadi kunci untuk membangun UMKM yang kuat, inklusif, dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya.




