Kehutanan

Kementerian Kehutanan dan BMKG Perkuat Sinergi Tangani Karhutla, Andalkan Teknologi Modifikasi Cuaca dan Sistem Peringatan Dini

Buletin.news – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkuat kolaborasi strategis dengan Kementerian Kehutanan RI dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis sains dan teknologi. Sinergi ini ditegaskan dalam audiensi antara Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dengan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (22/04/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Faisal menekankan bahwa peran BMKG kini tidak hanya terbatas pada pemantauan serta diseminasi informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami, tetapi juga diperkuat melalui intervensi aktif seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung mitigasi karhutla.

“BMKG akan terus berupaya memberikan layanan terbaik. Dalam satu pemerintahan, kita harus saling mendukung karena tujuan kita sama, yakni melindungi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

BMKG juga tengah mengembangkan teknologi modifikasi cuaca guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi di lapangan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan teknis dan dinamika cuaca yang kompleks.

Audiensi tersebut menghasilkan sejumlah rencana kerja sama strategis, di antaranya pertukaran dan integrasi data antar lembaga, peningkatan akurasi prediksi cuaca dan iklim, serta pemasangan instrumen meteorologi dan klimatologi di kawasan hutan untuk memperkuat sistem pemantauan dini.

Sebagai bagian dari strategi mitigasi nasional, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan kementerian/lembaga terkait terus mengedepankan pendekatan preventif melalui pelaksanaan OMC, khususnya untuk pembasahan lahan gambut (rewetting) di wilayah rawan karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa produk klimatologi BMKG memiliki tingkat akurasi tinggi dan menjadi acuan penting dalam memprediksi curah hujan serta potensi kebakaran hutan.

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa saat ini Indonesia berada pada periode transisi musim, dengan pola hujan yang tidak merata sehingga berpotensi meningkatkan risiko karhutla di sejumlah wilayah.

Di sisi lain, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, melaporkan bahwa pelaksanaan OMC menunjukkan hasil signifikan, termasuk peningkatan curah hujan dalam jumlah besar untuk menjaga kelembapan lahan gambut dan menekan kemunculan titik panas.

Saat ini, operasi modifikasi cuaca difokuskan di wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan Barat, dengan hasil berupa peningkatan curah hujan dan penurunan potensi kebakaran.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengapresiasi kontribusi BMKG dalam pengendalian karhutla melalui pendekatan berbasis data dan sains. Ia menilai kemampuan prediksi yang akurat sangat menentukan efektivitas kebijakan mitigasi di lapangan.

“Kami berharap angka karhutla terus menurun. Di sisi lain, koordinasi dengan pemerintah daerah juga harus diperkuat, termasuk dalam hal komunikasi yang cepat dan responsif,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai landasan kerja sama jangka panjang, mencakup pertukaran data, penguatan sistem peringatan dini, serta implementasi teknologi mitigasi berbasis sains.

Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem serta keselamatan masyarakat di berbagai wilayah rawan di Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button