
Kejar Swasembada 2026, Kementan Targetkan Produksi 18 Juta Ton Jagung untuk Industri Pangan
Buletin.news – Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menetapkan target ambisius produksi jagung nasional sebesar 18 juta ton pipilan kering pada tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai strategi ganda memperkuat hilirisasi industri pangan domestik sekaligus melindungi stabilitas harga di tingkat petani melalui penyerapan hasil panen yang lebih luas.
Kebijakan strategis ini mempertegas komitmen pemerintah dalam mewujudkan swasembada jagung berkelanjutan yang tidak lagi hanya bertumpu pada sektor pakan ternak, tetapi juga merambah ke industri pengolahan pati dan produk turunan pangan lainnya.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Rabu, 18 Februari 2026 potensi produksi jagung pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan menembus 4,94 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 4,18 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Kepercayaan diri pemerintah juga diperkuat dengan adanya surplus dan stok carry over sekitar 4,5 juta ton dalam neraca pangan nasional. Kondisi ini memastikan bahwa kebutuhan dalam negeri, baik untuk pakan maupun industri, dapat terpenuhi secara mandiri tanpa bergantung pada keran impor.
Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi, dalam keterangannya pada Kamis, 12 Februari 2026, menjelaskan bahwa penguatan sektor hilir adalah kunci agar melimpahnya produksi tidak menyebabkan jatuhnya harga saat panen raya.
“Saat ini Direktorat Hilirisasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan aktif menjalin kerja sama dengan berbagai provinsi sentra jagung. Kami memastikan pasokan untuk industri berjalan berkelanjutan sehingga petani memiliki kepastian pembeli (offtaker),” ujar Tiurmauli.
Kebutuhan jagung untuk industri pangan nasional diperkirakan mencapai 450.000 ton per tahun. Fokus utama pemerintah saat ini adalah pengembangan varietas jagung dengan kandungan pati tinggi yang sangat diminati oleh industri pengolahan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menegaskan bahwa kemajuan teknologi budidaya saat ini sangat mendukung pengembangan jagung pangan. Melalui kemitraan antara petani dan pelaku industri, rantai pasok akan menjadi lebih pendek dan efisien.
“Kita ingin mengubah paradigma. Jagung tidak hanya menjadi komoditas pakan saja, tetapi harus menjadi sumber bahan baku industri pangan bernilai tambah tinggi. Ini adalah cara kita memperkuat ekonomi nasional dari sektor hulu ke hilir,” tutup Yudi.




