“Dosen Fikom Unpad Ahmad Abdul Basith: Membangun Kedaulatan Digital Melalui Spirit Literasi Asta Cita”
Buletin. news – Hadir sebagai Keynote Sppach, Dr. Ahmad Abdul Basith, M.I.Kom., Dosen Fikom Unpad sekaligus Komisioner KPI Jawa Barat, memberikan penyampaian yang membakar semangat. Ia menarik benang merah sejarah antara penulis dan aktivisme.
“Kita punya akar intelektual yang kuat. Mahbub Djunaidi, Ketua Umum pertama PMII, adalah “Pendekar Pena” yang tiada tanding. Genealogi menulis ini harus kita sambung. Jangan sampai putus di generasi,” tegas Dr. Basith.
Dalam sebuah guyonan internal yang tajam, ia menyentil kebiasaan aktivis yang lebih sering berorasi daripada menulis.
“Mungkin karena tangan kita terlalu sering mengepal (salam pergerakan), jadi nulisnya terasa susah. Sesekali, kepalan itu harus dibuka, jemarinya digunakan untuk menari di atas papan tik. Karena menulis adalah cara kita berdaulat,” selorohnya yang disambut tawa peserta.
Dr. Basith juga menyoroti isu krusial mengenai penjajahan digital. Ia mengungkapkan keprihatinannya bahwa di era digitalisasi ini, Indonesia belum sepenuhnya berdaulat atas data pribadi warganya.
“Hari ini kita dihadapkan dengan isu besar tentang digitalisasi. Semua bergerak di ruang digital, tapi sesungguhnya kita tidak berdaulat di sana,” tegas Basith.
Realitas pahit di balik kemudahan teknologi yang digunakan masyarakat sehari-hari. Menurutnya, meskipun Indonesia sedang bertransformasi menuju digitalisasi total, namun secara fundamental bangsa ini masih “menumpang” pada infrastruktur asing.
Ia mencontohkan bagaimana data personal warga negara sangat mudah diakses oleh pemilik platform global. “Perjalanan saya dari Bandung ke Jakarta hari ini dipandu Google Maps, keseharian kita menggunakan ojek online, semua itu diintip oleh pemilik platform. Seluruh informasi dan data yang kita pertukarkan berada di tangan pihak luar negeri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Basith menekankan bahwa kegelisahan mengenai kedaulatan digital ini sangat relevan dengan semangat Asta Cita yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Poin-poin dalam Asta Cita menekankan pada kemandirian bangsa dan keamanan nasional, yang mana keamanan siber serta kedaulatan data merupakan pilar utamanya.
“Kita harus mendorong agar kemandirian di bidang teknologi ini menjadi prioritas, sebagaimana arah kebijakan Asta Cita. Tanpa kedaulatan digital, kita hanya menjadi objek dalam ekosistem global,” tutupnya.




