Di Tengah Gejolak Global, Mentan Amran Ekspor Pertanian RI Melejit Rp167 Triliun, Surplus Tembus Rp 200 Triliun
Buletin.news – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik global justru membawa dampak positif bagi kinerja ekspor pertanian Indonesia. Lonjakan signifikan terjadi di tengah konflik internasional, termasuk eskalasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam keterangannya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu (22/4/2026), Amran menyebut nilai ekspor pertanian Indonesia meningkat tajam hingga Rp167 triliun berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Di saat yang sama, nilai impor justru mengalami penurunan sekitar Rp41 triliun.
“Kita manfaatkan momentum ini. Ekspor naik Rp167 triliun, impor turun sekitar Rp41 triliun. Artinya, ada surplus sekitar Rp200 triliun,” ujar Amran.
Kinerja impresif ini terutama ditopang oleh komoditas perkebunan, khususnya minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), yang mengalami peningkatan permintaan dan harga di pasar global. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, volume ekspor CPO Indonesia mencapai sekitar 6 juta ton.
Amran menjelaskan, kenaikan harga global mendorong petani meningkatkan intensitas pemupukan dan perawatan tanaman, sehingga berdampak langsung pada produktivitas panen.
“Harga dunia bagus, petani jadi lebih optimal dalam merawat tanaman. Hasilnya produksi meningkat dan ekspor ikut terdongkrak,” jelasnya.
Menanggapi potensi pembatasan impor CPO dari Eropa, Amran menegaskan Indonesia telah menyiapkan strategi alternatif melalui penguatan program biodiesel B50. Program ini diproyeksikan menyerap sekitar 5 juta ton CPO domestik, sehingga mampu menjaga stabilitas pasar dalam negeri.
“Tidak ada masalah. Kita siapkan B50 yang akan menyerap CPO dalam jumlah besar,” tegasnya.
Lebih jauh, pemerintah juga tengah mengembangkan inovasi pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar setara bensin. Kajian ini dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan ditindaklanjuti melalui kerja sama dengan PTPN dalam tahap uji coba skala kecil.
“Sudah diuji, CPO bisa jadi gasoline pengganti bensin. Kami sudah tanda tangan MoU dengan PTPN. Kalau berhasil, akan kita kembangkan lebih luas,” ungkap Amran.
Tak hanya sektor perkebunan, peluang ekspor juga terbuka lebar di sektor pupuk. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang memengaruhi pasokan energi global berdampak pada meningkatnya permintaan pupuk, khususnya urea, dari berbagai negara.
Amran menyebut India secara langsung mengajukan permintaan sebesar 500 ribu ton. Selain itu, Australia, Filipina, dan Brasil juga menunjukkan minat untuk mengimpor pupuk dari Indonesia.
Dengan kapasitas produksi nasional mencapai 7,8 juta ton dan kebutuhan domestik sekitar 6 juta ton, pemerintah membuka peluang ekspor hingga 1 juta ton pupuk.
“Kita akan selektif memilih negara tujuan ekspor yang paling menguntungkan bagi kepentingan nasional,” ujarnya.
Untuk tahap awal, Indonesia telah menyepakati pengiriman 250 ribu ton pupuk urea ke Australia. Sementara alokasi ke negara lain masih dalam proses pembahasan lebih lanjut.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, pemerintah menilai momentum ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama di sektor pertanian dan energi berbasis hayati dunia.



