Viral

Ismail Marzuki “Muktamar NU Harus Jadi Ruang Islah, Bukan Arena Konflik”

Buletin.news – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar agenda lima tahunan atau forum untuk menentukan siapa yang akan menduduki kursi kepemimpinan, tapi muktamar adalah forum tertinggi organisasi, tempat seluruh elemen NU berhimpun untuk membaca kembali perjalanan organisasi, mengevaluasi kekurangan, menyatukan perbedaan sekaligus menentukan arah perjuangan NU ke depan.

Di tengah dinamika organisasi yang semakin kompleks, Muktamar seharusnya menjadi momentum muhasabah, islah, dan konsolidasi. Muhasabah untuk melihat apa yang telah dilakukan, islah untuk memperbaiki berbagai persoalan dan merajut kembali persaudaraan, serta konsolidasi untuk memastikan NU tetap kokoh menghadapi tantangan zaman.

Menurut Ismail, Muktamar tidak semestinya dipahami sekadar sebagai arena pergantian atau perebutan kepemimpinan. Lebih dari itu, Muktamar harus menjadi ruang bersama untuk melakukan refleksi atas perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah NU ke depan.

Muktamar adalah forum tertinggi organisasi. Karena itu, Muktamar harus menjadi momentum muhasabah, islah dan konsolidasi. Jangan sampai forum tertinggi ini justru melahirkan konflik dan perpecahan,” ujar Ismail Marzuki.

Ismail menilai, peserta Muktamar memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan kepemimpinan NU. Pilihan terhadap calon pemimpin kata dia, semestinya didasarkan pada kapasitas, integritas, keteladanan, kemampuan merangkul seluruh elemen, serta komitmen membawa NU menjadi organisasi yang semakin kuat dan bermanfaat bagi umat, bangsa dan negara.

“Yang dipilih mestinya adalah pemimpin yang mampu membawa NU ke depan menjadi lebih baik, bukan pemimpin yang justru membuat NU terus berada dalam konflik,” tegasnya.

Ismail mengingatkan bahwa NU memiliki sejarah panjang sebagai organisasi yang dibangun dengan tradisi keilmuan, kebersamaan, ukhuwah dan sikap moderat. Karena itu, dinamika politik organisasi tidak boleh menghilangkan karakter dasar tersebut.

Menurutnya, perbedaan pilihan dalam Muktamar merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari proses demokrasi organisasi, bukan alasan untuk saling bermusuhan.

“Berbeda pilihan itu biasa, yang tidak boleh adalah perbedaan pilihan kemudian berubah menjadi permusuhan dan konflik berkepanjangan. Setelah Muktamar selesai, semuanya harus kembali menjadi satu keluarga besar NU,” katanya.

Ismail juga menyerukan agar seluruh peserta Muktamar mengedepankan suasana riang gembira, persaudaraan, dan kedewasaan dalam berdemokrasi. Muktamar, menurutnya, harus menjadi pesta organisasi yang mempertemukan berbagai gagasan dan kekuatan untuk membangun NU, bukan arena yang meninggalkan luka baru.

“Muktamar harus dilaksanakan dengan riang gembira. Kita ingin melihat para peserta datang dengan semangat persaudaraan, menyampaikan gagasan dengan terbuka, berkompetisi secara sehat, lalu menerima hasilnya dengan lapang dada,” ujar Ismail.

Lebih jauh, Ismail menekankan bahwa ukuran keberhasilan Muktamar bukan hanya siapa yang terpilih sebagai pemimpin, tetapi seberapa kuat Muktamar mampu menghasilkan rekonsiliasi, konsolidasi dan agenda besar bagi masa depan NU.

Karena itu, Ismail mengajak seluruh peserta Muktamar untuk tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek dan pertarungan antarkelompok.

“Jangan sampai kita memenangkan kandidat tetapi kehilangan persaudaraan, jangan sampai kita memenangkan kontestasi tetapi NU justru mengalami kerugian, yang harus menang dalam Muktamar adalah NU,” tegasnya.

Ismail berharap Muktamar mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga mampu menjadi perekat seluruh elemen NU, menjaga marwah organisasi, memperkuat konsolidasi struktural dan kultural, serta menjawab tantangan zaman.

“Muktamar harus menjadi titik balik untuk memperkuat NU. Setelah Muktamar, tidak boleh ada lagi kubu-kubuan. Semua harus kembali bergandengan tangan membesarkan NU,” Tutup Ismail.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button