Kehutanan

Wamenhut Sebut Lahan Basah ‘Ginjal Bumi’, Ajak Warga Jakarta Jaga Mangrove dan Gambut di CFD

Buletin.news – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyulap momentum Car Free Day (CFD) Jakarta menjadi ajang kampanye hijau dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day/WWD) 2026, Minggu (08/02/2026). Melalui aksi jalan sehat dan pembagian bibit gratis, pemerintah mengajak masyarakat urban untuk lebih peduli pada ekosistem lahan basah yang kini menjadi tumpuan mitigasi krisis iklim global.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menegaskan bahwa Indonesia memegang peran kunci dunia karena memiliki luas ekosistem lahan basah yang masif, mulai dari mangrove hingga rawa gambut.

“Lahan basah adalah ginjalnya bumi. Mereka bekerja senyap menyaring polusi, melindungi pantai, dan menjadi benteng pertahanan iklim karena mampu menyerap karbon jauh lebih besar dibanding hutan tropis biasa,” ujar Rohmat di hadapan ribuan peserta CFD.

Rohmat menekankan bahwa keberhasilan Indonesia dalam menekan emisi karbon sangat bergantung pada efektivitas tata kelola kedua ekosistem. “Ini adalah aset strategis. Kami di kementerian akan berupaya maksimal menjaga kelestarian mangrove, gambut, dan rawa agar tetap menjadi warisan bagi anak cucu kita,” tambahnya.

Sebagai anggota Konvensi Ramsar sejak 1991, Indonesia kini telah memiliki 8 Situs Ramsar dengan total luas lebih dari 1,3 juta hektar. Situs-situs ini, mulai dari TN Berbak hingga TN Wasur, menjadi bukti dedikasi Indonesia dalam konservasi lahan basah berstandar internasional.

Tak hanya di kawasan konservasi, prestasi Indonesia juga merambah ke wilayah urban. Kota Surabaya dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah meraih akreditasi Wetland City Accreditation, sebuah pengakuan dunia atas tata kelola lahan basah di wilayah perkotaan.

Dalam peringatan bertema “Rawat Tradisi Lahan Basah Lestari” ini, Kemenhut tidak hanya berorasi, tetapi juga membagikan bibit pohon gratis kepada warga. Langkah ini bertujuan menguatkan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem air.

“Mari kita pastikan lahan basah tetap lestari. Bukan hanya untuk ekosistem, tapi untuk perlindungan masyarakat dari risiko bencana alam,” tutup Wamenhut.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button