
BPS Catat Deflasi 0,15 Persen Januari 2026
Buletin.news – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month to month) pada Januari 2026. Deflasi ini terutama dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan, khususnya cabai dan bawang merah.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng, menyampaikan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,30 persen.
“Pada Januari 2026 terjadi deflasi 0,15 persen secara bulanan, yang utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” ujar Ateng dalam rilis BPS di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Komoditas yang paling dominan menekan harga antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit sebesar 0,08 persen, serta bawang merah sebesar 0,07 persen. Selain itu, daging ayam ras dan telur ayam ras juga turut menyumbang deflasi masing-masing 0,05 persen dan 0,03 persen.
Ateng menjelaskan, penurunan harga komoditas hortikultura dipengaruhi oleh masuknya masa panen awal 2026. Khusus bawang merah, produksi Januari meningkat signifikan seiring panen raya di hampir seluruh sentral produksi, terutama wilayah Brebes Raya dan kawasan dataran tinggi.
Di luar sektor pangan, deflasi juga dipengaruhi oleh penurunan harga bensin dan tarif angkutan udara, yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,03 persen. Penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh Pertamina pada Januari 2026 menjadi salah satu faktor pendukung.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. Emas perhiasan justru menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2026 dengan andil 0,16 persen, seiring tren kenaikan harga emas dunia. Komoditas lain yang masih menyumbang inflasi antara lain ikan segar dan tomat.
Secara komponen, deflasi Januari 2026 terutama bersumber dari komponen harga bergejolak yang mengalami deflasi 1,96 persen dengan andil 0,33 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mencatat deflasi 0,32 persen dengan andil 0,06 persen. Berbeda dengan keduanya, komponen inti justru mengalami inflasi 0,37 persen dengan andil 0,24 persen, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, sewa rumah, dan sejumlah jasa.
Dari sisi wilayah, BPS mencatat 20 provinsi mengalami inflasi dan 18 provinsi mengalami deflasi secara bulanan. Deflasi terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar 1,15 persen, sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Maluku Utara sebesar 1,48 persen.



